Pada hari ini (13/6), saya membacakan kitab Ihya’ulumiddin di sebuah keluarga besar. Saya katakan ini kitab berat. Biasanya dikaji pada level tertentu. Namun karena tetap minta ngaji kitab tsb, akhirnya saya kabulkan. Hari ini memasuki Bab Pertama, Keutamaan Ilmu.

Pertanyaan yang sering kali muncul adalah bagaimana validitas hadits-hadits dalam kitab Ihya? Jawaban atas pertanyaan ini amat panjang.

Sebenarnya para ulama Hadits kadang tidak satu kata dalam menilai Hadits. Dalam Hadits ‘Mencari ilmu itu wajib atas tiap Muslim’, imam al Iraqi dan imam al Zabidi menilainya lemah (dhaif), sedangkan imam al Muzani menilainya hasan dan imam al Suyuthi menilainya shahih li ghairihi.

Hadits lain yang juga dinilai lemah adalah tentang anjuran menuntut ilmu ke negeri China, ‘Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China’ (Ihya’ Ulumiddin, Juz I halaman 18). Dalam takhrijnya imam al Iraqi menyatakan, “Hadits tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China dikeluarkan oleh imam Ibn Adi dan imam al Baihaqi dalam kitab al Madkhal dan Syuáb al Iman dari Hadits Anas. Imam al Baihaqi berkata,”Redaksinya (matan) masyhur, sedangkan sanadnya lemah (dhaif).”

Penilaian imam al Zabidi terhadap Hadits ini sama dengan al Iraqi. Namun al Zabidi memberikan komentar yang penting untuk diperhatikan dan dipertimbangkan, ”Hadits ini, meskipun sanadnya lemah (dhaif) tapi maknanya shahih.”

Begitulah, agak panjang memang kalau kita mendudukkannya secara adil dan tidak tergesa-gesa.

Terlepas itu semua, imam al Ghazali adalah satu-satunya ulama yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam abad kelima hijriyah secara aklamasi. Kedalaman dan keluasan ilmunya mencakup hampir semua ilmu yang berkembang di masanya. Ulama besar ini menulis lebih puluhan atau ratusan kitab dengan berbagai tema, mulai dari aqidah, fiqh, dan tasawuf.

YRT

 

Leave a comment