Oleh: Yuana Ryan Tresna

Mengokohkan Ukhuwah

Harus diakui, Pandemi Covid-19 telah banyak mengubah pola dan perilaku manusia, tak terkecuali kaum muslim. Termasuk para aktivis dakwah. Kebersamaan dengan masyarakat dan dengan sesama da’i menjadi “jauh”. Terpisah jarak karena ikhtiar menjaga protokol kesehatan. Karena secara sains, covid-19 itu ada dan menginfeksi. Pada situasi seperti inilah ukhuwah harus dikokohkan.

Urgensi ukhuwah Islamiyah itu paling tidak bisa dijelaskan melalui beberapa keutamaan: pertama, ukhuwah menciptakan persatuan (wihdah); kedua, ukhuwah menciptakan kekuatan (quwwah); dan ketigaukhuwah menciptakan kasih sayang (mahabbah). Persatuan, kekuatan dan kasih sayang ini merupakan perkara yang amat vital pada saat ini.

Beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Ali Imran ayat 103, al-Zukhruf ayat 67, al-Anfal ayat 63, dan termasuk al-Hujurat ayat 10, memberikan pesan kepada kita yang men-tadaburi-nya, betapa ukhuwah itu sangat berharga dalam Islam. Ia adalah pondasi kuat sekaligus mercusuar umat. Ia adalah nikmat sekaligus perkara yang harus dirawat.

Diantara perkara utama dari ukhuwah Islamiyah ini adalah bahwa ia merupakan modal kebangkitan umat. Kalau kita lihat sejarah 1400 tahun silam, nampak jelas bagaimana Islam menghimpun orang-orang arab yang saling membanggakan diri, kemudian menghimpun arab dan non arab, kemudian non arab dengan non arab, dan melebur mereka dalam bingkai yang satu. Maka dari mereka terbentuklah umat yang memimpin dunia lebih dari seribu tahun. Islam juga menyatukan manusia secara intelektual dan emosi, dan menjadikan manusia sebagai saudara yang mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Setiap muslim mengetahui hak saudaranya, sehingga ia tidak akan menzhaliminya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Anfal: 63)

Ketika umat Islam bersatu, kaum muslim telah menjadi satu umat yang kuat, yang disegani oleh semua pihak. Kaum muslim ketika itu sangat tangguh karena keperkasaan Rabb mereka, dan sangat mulia karena menerapkan agama mereka. Jika mereka mengeluarkan satu kata, maka kata-kata itu pasti menggema di seluruh pelosok dunia; jika mereka melakukan aksi, maka aksi itu pasti akan menimbulkan rasa gentar di hati orang-orang kafir.

Perwujudan ukhuwah dalam kehidupan umat Islam bentuknya sangatlah banyak. Diantara perwujudan tersebut adalah: Pertama, menjaga darah, kehormatan, dan harta sesama muslim; Kedua, tidak boleh saling menzhalimi; Ketiga, tidak boleh membiarkan muslim dizhalimi; Keempat, tidak boleh membuka aib (keburukan) saudaranya; Kelima, tidak boleh berprasangka buruk; Keenam, tidak boleh mengadu-domba dan ghibah; Ketujuh, membebaskan saudaranya dari kesulitan dan kemiskinan; dan Kedelapan, larangan memutuskan tali persaudaraan.

Secara kongkrit, kita harus saling membantu, saling memotivasi, dan meringankan beban hidup. Kita tidak boleh saling mencela, mencaci, menyakiti, membiarkan saudara kita berjuang sendiri dalam sulitnya kehidupan, dan membiarkan sendiri ketika sakit. Jangan menganggap orang yang tidak percaya covid-19 dengan cacian kasar. Juga tidak boleh ada yang menyepelekan dan menyebar informasi palsu tentang covid-19, sedangkan pada saat yang sama ada ribuan saudara kita terinfeksi virus tersebut, sebagian dari mereka dalam keadaan kritis, dan sebagiannya lagi telah meninggal dunia. Jika itu terjadi, sungguh ini sangat menyakitkan. Padahal kita sudah memiliki panduan umum yang jelas.

 Membangun Kehangatan

Kehangatan dalam dakwah bisa kita wujudkan dengan membangun lima hal yang paling utama: Pertama, hendaknya kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Kita saling mencintai karena Allah. Hati kita terpaut satu sama lainnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَأْلَفُ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ

“Sesungguhnya orang mukmin terpaut hatinya. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang yang tidak menautkan hatinya, dan tidak terpaut hatinya.” (HR. al-Hakim)

Demikian juga dengan sabda Rasulullah yang lain,

الْمُؤْمِنُ مَأْلَفَةٌ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ

“Orang mukmin menjadi tempat terpautnya hati. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang yang tidak menautkan hatinya, dan tidak terpaut hatinya.” (HR. Ahmad dan at-Thabarani)

Kedua, hendaknya kita menyampaikan nasihat dengan cara yang baik, dan mendorong mereka untuk menjalankan nasihat tersebut karena ketaataan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dorongan mereka untuk melaksanakannya karena dorongan takwa, bukan karena rasa takut. Begitulah seharusnya, kita menyampaikan nasihat dengan ucapan yang baik, dan mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Dengan kasih sayang dari Allah, hendaknya kamu bersikap lembut kepada mereka. Kalau kamu bersikap keras dan berhati kasar, maka mereka akan menyingkir dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Din kita adalah nasihat. Saat kita meluruskan apa yang nampak keliru dari saudara kita, maka sampaikan dengan rasa kasih sayang. Bukan atas dasar kebencian. Raba dada kita. Jika ada ada rasa kebencian dan rasa dengki, maka lebih baik diam.

Ketiga, dalam perkara-perkara yang mubah, hendaknya kita memperbanyak musyawarah dengan orang-orang yang mempunyai pandangan lurus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَلَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ، وَلَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

“Tidak ada kerugian dengan bagi orang yang melakukan istikharah, dan tidak penyesalan bagi orang yang meminta pandangan, dan tidak akan sombong orang yang sederhana.” (HR. at-Thabarani)

Keempat, kita tidak boleh putus asa terhadap rahmat (kasih sayang) Allah, karena jalan ini memang terbentang panjang. Allah berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dari orang-orang yang baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Saudaraku, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan perkara, maka Allah akan memudahkan jalannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi untuk mencari nushrah dari beberapa kabilah sendiri. Mereka pun membalasnya, dan menetapkan syarat kepada baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka tidak memenuhi permintaan baginda. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan keputusan-Nya, justru baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh enam orang yang mereka menanyakan ihwal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terjadilah kemudian Bai’at Aqabah Pertama, kemudian terwujudlah pertolongan itu pada Bai’at Aqabah Kedua. Akhirnya terwujudlah negara Islam yang pertama. Tiap ajal (tempo waktu) telah ditetapkan (di Lauh al-Mahfuzh).

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menyampaikan urusan-Nya. Allah benar-benar telah menetapkan untuk segela sesuatunya memiliki kadar (ketentuan).” (QS. At-Thalaq: 3)

Kelima, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa pertolongan itu harus dijemput dengan usaha. Kita tidak boleh hanya duduk-duduk saja. Kita wajib berjuang, bersungguh-sungguh dan serius. Kunci dalam perjuangan yang terbentang panjang adalah kejujuran dan keikhlasan. Kita harus yakin dengan janji Allah bagi orang yang beriman dan beramal shalih. Begitulah, janji itu diperoleh dengan dua perkara, yaitu iman dan amal shalih.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ.

“Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian, dan beramal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan memberikan Khilafah kepada mereka di muka bumi.” (QS. An-Nur: 55)

Semuanya itu jelas di dalam Sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana Nabi berjuang, dan bagaimana baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan penganiayaan. Akhirmya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala datang menghampiri baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baginda Nabi menolong (menegakkan agama) Allah, maka baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditolong oleh Allah. Ini ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

“Ketentuan Allah yang telah berlalu sebelumnya, dan kamu sekali-sekali tidak menemukan perubahan sedikit pun bagi ketentuan Allah itu.” (QS. Al-Fath: 23)

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjuang, begitulah para shahabat meneladaninya, dan begitulah seharusnya kita. Pertolongan akan datang, tidak ada sedikitpun keraguan, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karenanya kita tidak boleh berputus asa dari kasih sayang Allah. Jalan ini, meski panjang, sungguh hampir sampai di penghujungnya. Pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya itu sudah dekat. Pertolongan tersebut juga unutk kita yang Allah tolong. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan pertolongan untuk Rasul dengan pertolongan untuk orang-orang yang beriman, serta pertolongan di dunia dan akhirat:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya kami benar-benar akan menolong para utusan kami, dan orang-orang yang beriman di dalam kehidupan di dunia, dan Hari dimana para saksi bangkit memberikan kesaksian.” (QS. Al-Mukmin: 51)

Menatap ke Depan

Kita harus membangun soliditas dan kekuatan meski di tengah kondisi yang sangat terbatas. Membangun fokus dakwah dalam melakukan perubahan sistem kehidupan, dari sistem hidup sekular menuju sistem hidup Islam. Pandemi ini harus dijadikan momentum dalam melakukan great reset (pengaturan ulang secara global) menuju sistem Islam. Di saat ketidakpercayaan publik meningkat tajam kepada rezim yang berkuasa. Itu semua memerlukan fokus pada tujuan, pengendalian pada realitas yang terjadi, dan soliditas. Aspek soliditas inilah yang hari ini harus kita bangun kembali, mengingat sudah lebih dari satu tahun kita dipisahkan secara fisik. Kita harus menjadi ruh yang terhimpun dalam kesatuan yang kokoh. Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ مَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu (seperti) pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan; yang saling mengenal di antara mereka akan mudah tertaut; dan yang saling mengingkari di antara mereka akan mudah berselisih.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad)

Dalam syarahnya, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ruh-ruh itu saling mengenal karena suatu perkara yang Allah menciptakan mereka di atasnya. Sebab isi dunia ini hanyalah keimanan atau keingkaran; mereka yang taat pada Allah akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka.

Ya Allah, kuatkan ikatan kami, kekalkan cinta kami, istiqamahkan kami di atas jalan yang lurus. Ya Allah, penuhi pertautan kami dengan cahayaMu yang tiada pernah padam. Ya Rabb, bimbinglah kami. Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariatMu. []

 

Bumi Allah, 1 Dzulhijjah 1442 H

 

2 Comments

  • Posted July 11, 2021
    by Faizah Rosyidah

    Alhamdulillah. Jzkmlh Khoiron ustadz atas nasehatnya.

  • Posted July 12, 2021
    by Dra Sri Wahyuni Abd Muin

    Maa Syaa Allah, mencerahkan Ustadz.

Leave a comment