• Tsaqafah

    TALAK BID’I, BOLEHKAH DIULANG?

    TALAK BID’I, BOLEHKAH DIULANG? Soal: Ustaz, apa yang dimaksud dengan talak bid’i, apakah sah talaknya, dan apakah bisa diulang? (Hamba Allah, Bandung) Jawab: Talak atau perceraian adalah terlepasnya ikatan perkawinan antara suami-istri, baik karena ungkapan talak sang suami, ungkapan tak disadarinya, maupun karena gugatan sang istri melalui pengadilan. Meski bukan perkara yang haram, namun perceraian adalah hal yang harus diwaspadai. Perceraian adalah lepasnya ikatan dan runtuhnya bangunan keluarga. Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki menjelaskan hal ini dalam kitabnya, Adab al-Islam fi Nizham al-Usrah hlm. 9. Talak memiliki sejumlah syarat dan ketentuan, sehingga ia menjadi sah atau jatuh kendati tak disadari orang yang menjatuhkannya. Para ulama fiqih melihat syarat dan…

  • Hadits

    Seandainya Matahari Diletakkan di Tangan Kananku dan Rembulan di Tangan Kiriku

    Penjelasan Singkat Hadits “Seandainya Matahari Diletakan di Tangan Kananku dan Rembulan di Tangan Kiriku” Mari kita perhatikan matan hadits dan sanadnya sebagai berikut, قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ : فَحَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ الْمُغَيرَةَ بْنِ الأَخْنَسِ ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ قُرَيْشًا حِينَ قَالَتْ لأَبِي طَالِبٍ هَذِهِ الْمَقَالَةَ ، بَعَثَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا ابْنَ أَخِي ، إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ جَاءُونِي ، فَقَالُوا لِي : كَذَا وَكَذَا ، فَابْقِ عَلَيَّ وَعَلَى نَفْسِكَ ، وَلا تُحَمِّلْنِي مَا لا أُطِيقُ ، فَظَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَدْ بَدَا لِعَمِّهِ فِيهِ بَدَاءٌ ، وَأَنَّهُ خَاذِلُهُ وَمُسَلِّمُهُ ، وَأَنَّهُ ضَعُفَ عَنْ نُصْرَتِهِ وَالْقِيَامِ مَعَهُ ، فَقَالَ…

  • Hadits

    MEMBANDINGKAN KITAB FIQH BULUGH AL-MARAM DENGAN KITAB SYARAH PENDAHULUNYA

    Kitab Fiqh Bulugh al-Maram akhir-akhir ini banyak dicari sebagai syarahan atas Bulugh al-Maram karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah ta’ala. Kenapa banyak dicari? Alasan paling kuat adalah karena kitab ini disusun berdasarkan fikih Madzhab Syafi’i. Memang unik untuk Bulugh al-Maram ini, dimana kita sulit mendapatkan syarahan dalam fikih Madzhab Syafi’i. Padahal al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri adalah bermadzhab Syafi’i. Sebelum mereview kitab beliau, kita akan menelaah dulu kitab-kitab syarah sebelumnya yang pernah ada. Saya tidak akan membahas semuanya, melainkan hanya sebagian saja. Syarah yang selama ini masyhur adalah: 1. Al-Badr al-Tamam karya al-Qadhi al-Husain bin Muhammad al-Maghribi. Kitab ini dikenal karena dipopularkan oleh Al-Shan’ani, penulis kitab Subul al-Salam. Dalam pendahuluannya, ia…

  • Adab

    Memahami Khidmat Para Ulama pada Ilmu

    Membaca khidmat para ulama pada ilmu yang di luar nalar kita yang lemah, kadang kita malah sibuk bertanya-tanya mengapa itu terjadi pada mereka (para ulama) dan apakah hal itu tepat atau tidak, apakah itu tidak berlebihan, dll. Sementara kita tidak bisa menangkap pesan pentingnya. Apa? Khidmat pada ilmu yang total. Begitulah seharusnya kita. Bentuknya? Silahkan kita bisa takar kemampuan kita masing-masing. Pada diri para ulama, Allah titipkan ilmu yang melampaui orang-orang pada zamannya. Di antara para ulama hafal al-Quran, ribuan Hadits, berbagai matan kitab sejak usia belia. Ikhwah fillah bagaimana kalau kita baca biografi para ulama di era Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in? Apakah akan terperanjat sampai berteori bahwa itu tidak…

  • Tsaqafah

    Ugal-ugalan Menempatkan Dalil

    Fenomena asal menempatkan dalil sering terjadi. Biasanya datang dari mereka yang tidak mengerti ilmu-ilmu syariah seperti bahasa Arab, ushul fikih dan musthalah hadits. Asal tempel. Itu sangat berbahaya. Kemarin, saya ditanya oleh seorang sahabat tentang dalil “Islam moderat”. Beliau rupanya meneruskan dari argumentasi seseorang yang mengajukan tiga hadits di bawah ini sebagai dalil “Islam moderat”. Diksi “Islam Moderat” sebenarnya problematik. Karena Islam adalah Islam dengan seperangkat akidah dan syariahnya. Islam adalah jalan hidup yang unik dan berbeda dengan agama dan ideologi lain. Mengapa harus ada Istilah “Islam moderat”? Allah memerintahkan kepada kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), tanpa memberikan peluang untuk memilah dan memilih mana yang sesuai…

  • Tsaqafah

    PERBEDAAN ANTARA IJTIHAD DAN REKONTEKSTUALISASI FIKIH ISLAM

    Oleh: Yuana Ryan Tresna   Pendahuluan Beralasan dunia terus mengalami perubahan, Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas melihat pentingnya melakukan rekontekstualisasi sejumlah konsep fikih atau ortodoksi Islam dalam rangka merespon tantangan zaman. Hal itu ia sampaikan saat memberikan sambutan pada pembukaan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang ke-20 di Surakarta, Senin (25/10/2021). Namun benarkah fikih Islam harus dilakukan rekontekstualisasi sehingga bisa menjawab perubahan zaman? Ataukah justru yang dibutuhkan adalah ijtihad dan penerapan fikih Islam dalam rangka memberikan jawaban atas perubahan dunia yang dinamis? Tulisan ini akan mengulas perbedaan mendasar antara ijtihad dengan rekontekstualisasi fikih ala Menag.   Fikih dan Syariah Islam Gagasan rekontekstualisasi fikih Islam tidak lepas dari pandangan…

  • Hadits

    Obat Kedunguan Adalah Belajar Agama yang Mendalam

    Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin membuat sebuah bab “Keutamaan Ilmu: Belajar dan Mengajarkannya”. Ibnu Allan menjelaskan dalam kitabnya Dalilul Falihin bahwa yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu agama (al-ilm al-syar’i), yaitu hadis, tafsir, fikih dan alat-alatnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: وَقُل رَّبِّ زِدۡنِی عِلۡمࣰا “Katakanlah (wahai Muhammad): Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Tha-Ha: 114) Ibnu Allan mengatakan: هذا من أعظم أدلة شرف العلم وعظمه، إذ لم يؤمر – صلى الله عليه وسلم – أن يسأل ربه الزيادة إلا منه. “Ayat ini termasuk dalil terbesar yang menunjukkan keutamaan dan keunggulan ilmu. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah disuruh meminta tambahan kepada tuhannya kecuali tambahan ilmu.”…

  • Tsaqafah

    Ummat[an] Wasath[an] Bukan Dalil Moderasi Islam

    Pemerintah melalui berbagai kementeriannya, termasuk Kementerian Agama, tengah mengkampanyekan moderasi beragama dan kontra-narasi radikalisme. Salah satu bentuk kampanye itu adalah dengan membangun pusat kajian beragama di berbagai kampus. Pemerintah mendefinisikan radikalisme sebagai upaya yang dilakukan individu atau kelompok melalui perubahan radikal hingga ke akar dengan cara kekerasan. Masih menurut pandangan Kementerian Agama, kelompok itu ingin mengubah landasan Pancasila dengan Khilafah. Oleh karena itu, Pemerintah melakukan upaya deradikalisasi yang dilakukan secara sistematis, massif, terstruktur dan terukur. Namun, gagasan ini secara faktual lebih diarahkan pada Islam dan umatnya. Umat Islam dan ajarannya jadi target utama program moderasi beragama ini. Lalu dibuatlah argumen-argumen bahwa moderasi itu selaras dengan Islam. Tulisan ini bermaksud mengkritisi…

  • Uncategorized

    KITA MEMERLUKAN IJTIHAD ULAMA DAN PENGAMALAN FIKIH, BUKAN FIKIH ALTERNATIF

    Ramai di pemberitaan bahwa menurut Menag RI, dunia membutuhkan fikih alternatif. Setelah saya mencermati maksud dari fikih alternatif bukanlah ijtihad pada perkara-perkara baru, melainkan menyesuaikan fikih Islam agar adaptif dengan perkembangan zaman. Menag Yaqut menyebut ada empat alasan yang mendasari pentingnya rekontekstualisasi ortodoksi Islam. Keempat alasan yang disampaikan tidak lebih dari sebuah ketundukan pada realitas, usaha menjunjung tinggi nilai yang dianggap nilai universal, menampilkan wajah baru Islam. Sebenarnya dunia tidak membutuhkan apa yang disebut dengan rekontekstualisasi ortodoksi Islam. Dunia justru membutuhkan ijtihad para ulama pada masalah baru yang muncul dan pengamalan produk ijtihad tersebut (fikih) secara sempurna. Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani rahimahullahu ta’ala dalam Syariatullah al-Khalidah…

  • Tsaqafah

    BERISLAM TAPI MENOLAK MENJALANKAN SYARIAH ISLAM ADALAH JALAN MENUJU KEBINASAAN

      Baru-baru ini, seorang buzzer membuat publik terkejut dengan pernyataannya bahwa meski dia memeluk Islam namun tidak percaya dan menolak jalankan syariat Islam di Indonesia. Pernyataan tersebut paradoks dengan pengakuan keislamannya, tapi kenyataannya memang ada orang yang demikian. Dilihat secara normatif, pernyataan tersebut sangat berbahaya. Kita bisa menelaah beberapa nash al-Quran, diantaranya QS. an-Nisa’ [4]: 65 dan QS. al-Jatsiyah [45]: 18-19. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dan sangat relevan dengan kondisi hari ini. Pada QS. an-Nisa’ [4] ayat 65, terdapat beberapa pelajaran penting diantaranya: Pertama, ungkapan “laa yu’minuuna” menunjukkan qarinah (indikasi) yang tegas akan kewajiban menjadikan Rasulullah sebagai hakim (pemutus perkara); Kedua, haram menjadikan hakim selain dari Rasulullah; Ketiga, sepeninggal…