Pada kajian hadits ahkam Bulughul Maram kitab al-Buyu’ beberapa bulan silam (22/10/2018) masuk pembahasan budak (hadits ke-10 di Kitab al-Buyu’)

Dari hadits tersebut dapat disimpulkan 3 hal: (1) dalil jual beli kredit (kasus budak mukattab); (2) syarat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah maka bathil (al-wala’ milik bagi yang membebaskan); dan (3) Islam mengakui jual beli budak saat itu (budak sebagai barang).

Aspek ekonominya mudah dipahami. Nah, kemudian muncul pertanyaan tentang perbudakan dalam Islam yang sering kali disalahpahami; masih mungkin ada kah praktik perbudakan?

Tentang hukum budak, saya menjelaskan bahwa Islam datang di tengah realitas perbudakan yang sah dan legal dalam tradisi masyarakat kala itu. Berkaitan dengan itu, saya menjelaskan 2 hal: (1) Islam menetapkan hukum-hukum tertentu terkait dengan perbudakan (seperti memperjual-belikannya, boleh menggaulinya, hukum-hukum yang terkait dengannya, dll); (2) Islam sejak awal memiliki visi membebaskan budak dan memusnahkan perbudakan dengan hukum-hukum tertentu (seperti masuk ashnaf zakat agar budak bisa memerdekakan diri, kafarat jima’ suami istri di siang hari pada bulan Ramadhan, kafarat pelanggaran sumpah, denda dalam pembunuhan yang disengaja, denda dalam pelanggaran haji, dll).

Adapun kasus trafficking atau perdagangan manusia yang terjadi saat ini bukanlah perbudakan sebagaimana dimaksud, melainkan merupakan praktik memperbudak orang merdeka.

Saya menegaskan Islam datang bukan untuk menghidupkan perbudakan, melainkan menghilangkan perbudakan. Jangan bercita-cita justru ingin ada perbudakan kembali.

Bahkan menggauli budak pun sebenarnya dalam rangka membebaskan budak, karena jika punya anak statusnya menjadi ummul walad yang otomatis merdeka begitu tuannya meninggal, dan anaknya terlahir sebagai orang merdeka. Demikian juga dengan mekanisme mukattab (membebaskan diri sendiri). Belum lagi hukum-hukum lainnya (kafarat, dll).

Saya menjelaskan dengan kepada kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 2. Bagi yang sudah mengkajinya in sya Allah akan jelas.

Beberapa poin yang harus dipahami dari kitab tersebut adalah:

1. Islam menemukan fakta saat itu bahwa manusia memiliki budak, maka Islam menawarkan solusi atas hal tsb, menempatkan kembali sebagai manusia dengan fitrah kemanusiaannya,

وجد الإسلام الناس يملكون الأرقاء فعالج مشاكل الرقيق بين المالكين معالجة تجعل للرقيق حقوقاً وتحفظ عليه اعتبار كونه إنساناً كالحر من حيث الصفات الفطرية التي فُطرت في الإنسان

2. Islam menekankan dan mendorong pembebasan budak,

حثّ الإسلام على عتق الأرقّاء. فقد جعل عتق الرقبة يساعد الإنسان على شكر نعم الله الجليلة ويعينه على اقتحام العقبة، قال تعالى: (فلا اقتحم العقبة وما أدراك ما العقبة فك رقبة)، والاقتحام الدخول والمجاوزة بشدة ومشقة، والعقبة الشدة.

3. Islam menetapkan aturan-aturan tertentu terkait dengan pembebasan budak,

شرع الإسلام أحكاماً عملية توجب عتق الأرقّاء، فقد شرع أحكاماً تجبر على العتق، إذ جعل عتق العبد المملوك للقريب محرم يتم آلياً بمجرد الملك سواء رضي المالك أم لم يرض، أعتق أم لم يعتق

4. Menyiapkan alokasi khusus dari baitul mal utk pembebasan budak, misal dari sumber zakat.

لم يكتف الإسلام بالحث على العتق وإيجاد أحكام تُجبِر على العتق، بل جعل في بيت مال المسلمين باباً خاصاً لعتق الأرقّاء، إذ جعل الزكاة تُصرف لعتق الأرقّاء، وجعله أحد الأبواب الثمانية

Peluang Munculnya Perbudakan Sudah Tertutup Rapat

Benarkah perbudakan akan ada secara otomatis dengan adanya futuhat (pembebasan) di masa depan? Anggapan tersebut sama sekali tidak benar, tidak otomatis adanya futuhat melahirkan perbudakan.

Adanya perbudakan hanya ada 3 sebab: (1) keturunan, (2) jual beli, (3) peperangan/penaklukan.

Point 1 dan 2 jelas sudah tidak ada peluang lagi. Bagaimana dengan peperangan? Ini juga sudah dibantah dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 2, sbb:

أمّا حالة الحرب فقد فصّل فيها الإسلام، فمنع استرقاق الأسرى مطلقاً. ففي السنّة الثانية للهجرة بيّن حكم الأسرى بأنه إما منّ عليهم بإطلاق سراحهم دون مقابل، وإما فداؤهم بمال أو بأسرى مثلهم من المسلمين أو الذميين. وبذلك يكون قد منع استرقاق الأسرى. قال تعالى: (فإذا لقيتم الذين كفروا فضَرْبَ الرقاب حتى إذا أثخنتموهم فشُدّوا الوَثاق فإمّا مَنّاً بعدُ وإمّا فداء حتى تضع الحرب أوزارها)، فالآية صريحة في هذا المعنى: المنّ أو الفداء، ولا تحتمل غيره مطلقاً. واللغة العربية تقضي بحصر حكم الأسرى في أحد هذين الأمرين المنّ أو الفداء لأن “إمّا” للتخيير بين شيئين وللحصر في هذين الشيئين. وهنا جاءت مخيِّرة بين المنّ والفِداء وحاصرة الحكم بهما حين عبّرت عن ذلك “بإمّا” المفيدة للحصر فيما يُذكر بعدها (إمّا مناً بعد وإمّا فِداء)

Bahwa dalam masalah perang, Islam melarang secara mutlak memperbudak tawanan perang. Pada tahun kedua hijrah, Islam telah menjelaskan hal ini bahwa untuk tawanan itu hanya ada 2 opsi: melepas tawanan tanpa tebusan, atau dengan tebusan. Dalilnya QS. Muhammad ayat 4. Ayat ini sharih menjelaskan bahwa hanya 2 opsi: bebaskan atau minta tebusan. Tidak boleh menjadikannya budak!

Memang ada yang sebagian yang berpendapat boleh ada perbudakan dari perang dengan dalil af’al nabi pada saat perang hunain yang memperbudak tawanan, tapi itu kemudian dijawab. Sesungguhnya tidak terjadi ta’arudh antara dalil, karena tidak ada ta’arudh al-Qur’an dengan Hadits. Tidak berlaku hukum nasakh, juga bukan takhshis atau taqyid.

Penjelasannya,

والجواب على ذلك هو أن عمل الرسول وقوله بالنسبة لآيات القرآن إما تفصيل مُجمَل أو تقييد مُطلَق أو تخصيص عام، ولا يكون عمل الرسول وقوله ناسخاً للقرآن. وآية الأسرى ليست مُجمَلة حتى تُفصل، ولا ألفاظها ألفاظ عموم حتى تُخصص، ولا مُطلَقة حتى تقيّد، فإذا صح أن الرسول استرقّ بعد نزوله فإن عمله يكون ناسخاً لها، وذلك لا يجوز. وعلاوة على ذلك فإن كون الرسول قد استرقّ الأسرى خبر آحاد وهو يعارض آية (إمّا منّاً بعدُ وإمّا بعدُ) وإذا عارض خبر الآحاد القطعي من الآيات والأحاديث يُرد خبر الآحاد دراية.

Bahwa jawabannya adalah: al-Qur’an dengan lafazh sharih dikedepankan dari pada hadits ahad, dan kasus pada perang hunain adalah hukum sabiy (anak-anak dan perempuan yang ikut dalam peperangan yang mana hukumnya disamakan dengan ghanimah). Inilah pendapat yang shahih.

Kemudian,

أن واقع ما حصل من الرسول أنه في غزوة حُنين قد اصطحب المحارِبون من المشركين معهم نساء وأطفالاً في المعركة لتكثير سوادهم ولتحميس رجالهم، فلمّا كُسروا في المعركة صار النساء والأطفال سبياً وقَسمهم الرسول على المحاربين من المسلمين. فلمّا روجع في هذا السبي استوهب المسلمين ما لهم من حق في السبي عن طيب نفس وردّ السبي إلى أهله

ومن ذلك يتبين أن الإسلام منع استرقاق الأسرى وخيّر الخليفة في السبي بين الاسترقاق والإطلاق وليس فيهم فداء، كما فعل الرسول في سبي حُنين استرقّهم ثم أطلقهم، وكما فعل في سبي خيبر تركهم أحراراً ولم يسترقّهم

Bahwa hukum sabiy ini punya hukum sendiri, dan dibahas khusus dalam bab tawanan. Pilihan pada sabiy adalah: melepaskannya atau memperbudaknya dengan hukum-hukum tententu. Sabiy ini bukan hukum tentang perbudakan atas tawanan, tetapi hukum atas ghanimah. Jadi beda. Itulah yang terjadi para perang Hunain, dimana anak-anak dan perempuan mereka libatkan dalam kancah peperangan.

Kesimpulan,

ومن ذلك يتبين أن الإسلام عالج الاسترقاق فمنع جميع الحالات التي يحصل فيها الاسترقاق، وترك للخليفة الخيار في حالة السبي تبعاً للموقف بالنسبة للعدو. وبذلك يكون قد قضى على الاسترقاق ولا سيما حين تبطل عند الناس إخراج النساء والأطفال مع الجيش لتكثير السواد والتحميس، كما هي الحال في الحروب الحديثة منذ قرون حتى اليوم، فإنه لا يبقى ولا حالة واحدة يحصل فيها الاسترقاق مطلقاً، وبذلك يكون الإسلام منع الاسترقاق.

Islam menawarkan solusi dan pemberantasan perbudakan. Islam melarang semua kondisi yang bisa terjadi praktik perbudakan. Islam juga memberikan kewenangan berupa pilihan kepada khalifah untuk memperlakukan sabiy dan itupun dengan mempertimbangkan sikap musuh. Sabiy ini adalah kasus dimana anak-anak dan perempuan masuk medan perang dan di zaman sekarang hal tersebut dilarang. Sehingga tidak ada lagi kondisi yang memberikan peluang perbudakan. Itulah bukti bahwa Islam melarang praktik perbudakan.

Jadi jika masih ada yang berpendapat bahwa perbudakan akan ada secara otomatis dengan adanya futuhat/peperangan, adalah pendapat yang lemah. Karena yang masih memungkinkan juga adalah hukum sabiy dengan syarat dan ketentuan tertentu.

[Yuana Ryan Tresna]

===
Sumber: https://t.me/yuanaryantresna

Leave a comment